February 18 2026
Jembatani Kesenjangan Pendidikan, Redea Institute Hadirkan Program Simulasi Bisnis

Jakarta, 11 Februari 2026 – Dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, Indonesia tengah bersiap menghadapi periode krusial Bonus Demografi yang diprediksi memuncak pada 2030 hingga
2040. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), pada fase ini, proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan mendominasi dengan komposisi lebih dari 60% dari total populasi. Fenomena ini menjadi peluang sekaligus tantangan besar yang memerlukan kesiapan matang.


Indonesia sangat membutuhkan akselerasi jumlah wirausaha, khususnya dari kalangan generasi muda. Menciptakan lapangan kerja secara masif tidak lagi cukup; kemandirian ekonomi harus dibangun melalui
kewirausahaan. Mengutip data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), rasio kewirausahaan Indonesia saat ini baru mencapai 3,47%. Padahal, untuk bertransformasi menjadi
negara maju pada 2040, Indonesia memerlukan rasio wirausaha ideal sebesar 12%. Kesenjangan angka ini menegaskan urgensi hadirnya wadah-wadah strategis yang mampu memupuk semangat, naluri, serta
keterampilan kewirausahaan bagi generasi penerus bangsa.


Sejak didirikan pada tahun 1996, Sekolah HighScope Indonesia (SHI) secara konsisten berkomitmen mengasah kemampuan pengambilan keputusan siswa melalui pendekatan pembelajaran yang unik dan
praktis. Berpijak pada keyakinan bahwa pendidikan terbaik adalah yang mensimulasikan kehidupan nyata (real-life), Research & Development for Advancement (Redea) Institute (d/h HighScope Indonesia
Institute) membekali siswa dengan berbagai keterampilan dan pengalaman yang relevan dengan dinamika dunia kerja. Kurikulum yang digunakan di Sekolah HighScope Indonesia dirancang secara
komprehensif untuk melatih ketajaman berpikir dan kemandirian. Pada jenjang SD hingga SMP, seluruh siswa berpartisipasi dalam Conscious Business Day—sebuah kegiatan tahunan di mana siswa belajar
merencanakan dan menjalankan proses kewirausahaan dalam situasi nyata. Memasuki jenjang SMA, komitmen ini diperluas di bawah naungan Redea Institute melalui program Virtual Company Indonesia
(VCI). VCI merupakan platform simulasi bisnis mendalam bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tahun ini, partisipan program mencakup institusi pendidikan
ternama, di antaranya SMKN 18 Jakarta, SMKN 20 Jakarta, SMKN 43 Jakarta, SMKN 51 Jakarta, serta SMA HighScope Indonesia cabang Bali, Denpasar, dan TB Simatupang.


Program tahunan VCI diawali dengan babak penyisihan Business Plan Competition yang berlangsung pada 28-29 Januari 2026 di SHI – TB Simatupang, dan memuncak pada babak final hari ini. Dalam
kompetisi ini, setiap perusahaan virtual yang tergabung dalam jaringan VCI berkompetisi mengeksplorasi ide bisnis serta menguji kompetensi manajerial di hadapan dewan juri yang terdiri dari para ahli dan
praktisi industri. Ajang ini menjadi momentum penting bagi para peserta untuk mengasah kemampuan dan memperluas wawasan. Selain melalui proses evaluasi yang ketat, para pelaku bisnis dari berbagai
sektor turut hadir untuk berbagi pengalaman serta memberikan motivasi. Tahun ini, jajaran dewan juri menghadirkan figur kompeten seperti Syukriyatun Ni’amah (Founder & CEO Robries), Erwin Octavia
(Founder Makeblock Indonesia), dan Jacky Mussry (Vice Chancellor MarkPlus Institute).


Acara dibuka dengan sambutan dari Founder & CEO Redea Institute, Antarina S.F. Amir. “Tantanganterbesar dalam pendidikan saat ini bukan tentang minimnya informasi, tetapi minimnya implementasi.
Banyak yang terbiasa mencari satu jawaban 'tepat', padahal dunia nyata membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan di tengah ketidakpastian. Di sinilah peran penting Redea Institute sebagai
jembatan penghubung,” ujar Antarina di hadapan para peserta. Beliau menambahkan, “Melalui VCI, Anda tidak sekadar menyerap teori, melainkan terjun langsung dalam dinamika pengambilan keputusan
bisnis. Anda telah mendobrak siklus lama dan melangkah melampaui batasan buku teks.”


Turut hadir memberikan apresiasi, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Ibu Nahdiana, S.Pd.,M.Pd. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya program seperti VCI bagi masa depan siswa.
“Riset dari University of Arizona menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam kompetisi bisnis memiliki peluang tiga kali lebih besar untuk sukses membangun usaha dan memperoleh penghasilan yang lebih
tinggi,” ungkap Ibu Nahdiana. “Kompetisi hari ini selaras dengan strategi besar yang dicanangkan oleh Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno dalam mentransformasi dunia pendidikan.
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta berkomitmen penuh pada transformasi vokasi melalui sinergi dan kolaborasi industri.”
Kompetisi Business Plan ini menuai respon positif dan apresiasi tinggi dari jajaran dewan juri yang


terkesan dengan kedalaman ide serta visi keberlanjutan para peserta. Syukriyatun Ni’amah, Founder & CEO Robries, menyoroti bagaimana ide-ide siswa selaras dengan isu global. “Beberapa ide bisnis yang
dipresentasikan hari ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan visi Robries mengenai sustainability dan ESG. Inovasinya luar biasa; saya bahkan baru mengetahui bahwa minyak jelantah dapat
diolah menjadi produk kain melalui tangan kreatif mereka,” ungkapnya. Erwin Octavia, Founder Makeblock Indonesia mengagumi profesionalisme para siswa. “Acara ini membuka mata saya bahwa
siswa level SMA dan SMK mampu menyusun rencana bisnis yang begitu komprehensif dan berkualitas. Mereka tidak hanya beride, tetapi benar-benar menguasai materi presentasi dengan sangat matang,”
tegas Erwin. Sementara itu, Jacky Mussry, Vice Chancellor MarkPlus Institute, melihat adanya optimisme besar bagi masa depan ekonomi Indonesia. “Anak-anak ini memberikan kita harapan. Orientasi mereka
sudah mengarah pada ESG, Sustainability, hingga Social Movement, dan nilai-nilai tersebut sudah terintegrasi (embedded) dalam model bisnis mereka sejak dini,” tuturnya.


Berikut adalah pemenang dari setiap kategori:
Kategori Advanced
● Outstanding Presentation: Caplok by NVCo
● Best Marketing Strategy: Titip Aja! by Kudeta
● Best Innovative Idea: Jelantic by Haegea
● Best Business Plan: Caplok by NVCo
Kategori Basic
● Outstanding Presentation: Santara – SMKN 20
● Best Marketing Strategy: Ventuphous – SMKN 51
● Best Innovative Idea: Revo’N – SMKN 43
● Best Business Plan: Santara – SMKN 20


Sebagai bagian dari Generasi Z yang dikenal adaptif dan kritis, para peserta melihat program ini sebagai jawaban atas kebutuhan mereka akan pengalaman praktis. Di tengah gempuran teori digital, Gen Z
memerlukan ruang untuk membuktikan kompetensi mereka dalam situasi nyata. Salah satunya Oka, siswa SMKN 20 Jakarta yang menjabat sebagai CEO di perusahaan virtualnya, mengungkapkan
transformasinya selama mengikuti program ini. “Acara ini luar biasa dan sangat menantang. Kami benar-benar berjuang dari nol. Setelah mengikuti program ini sejak tahun lalu, kini saat menjabat
sebagai CEO, saya merasakan pengalaman kepemimpinan yang sesungguhnya. VCI sangat membantu saya dalam menggali potensi diri yang selama ini belum terasah,” ujar Oka. Senada dengan Oka, Keyza,
juga dari SMKN 20, menekankan pentingnya umpan balik (feedback) dari para ahli industri bagi masa depannya. “Ini adalah pengalaman yang tak terlupakan. Saya belajar banyak hal, mulai dari membangun
model bisnis hingga mengolah masukan dari dewan juri. Semua ilmu ini sangat aplikatif dan pastinya akan saya terapkan dalam dunia nyata setelah lulus nanti,” pungkas Keyza. Peserta didik SMKN yang
mengikuti kegiatan ini, beberapa di antaranya merupakan penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP), mampu bersaing secara setara dengan peserta didik dari berbagai sekolah lainnya. Mereka menunjukkan bahwa
dengan kesempatan yang adil, pembinaan yang berkelanjutan, serta akses yang tepat terhadap sumber belajar dan pendampingan, setiap anak memiliki peluang yang sama untuk berkembang dan berprestasi.
Latar belakang ekonomi tidak menjadi hambatan untuk meraih capaian terbaik, karena potensi, semangat, dan kerja keras dapat tumbuh di mana saja ketika didukung oleh lingkungan yang mendukung
dan kebijakan yang berpihak pada pemerataan kesempatan. Hal ini menegaskan bahwa talenta muda berdaya saing tinggi dapat lahir dari berbagai kondisi, tanpa memandang latar belakang ekonomi.


Rangkaian acara ini akan dilanjutkan dengan VCI Trade Fair yang dilaksanakan selama 1 (satu) hari pada hari Rabu, 8 April 2026 di Sekolah HighScope Indonesia – TB. Simatupang. Pada Trade Fair tersebut, para
perusahaan virtual yang didirikan oleh siswa SMA dan SMKN yang tergabung dalam Program VCI, akan memamerkan dan menjual konsep produk atau jasa yang sudah mereka kembangkan kepada para
pengunjung pameran yang terdiri dari orang tua siswa, guru dan staf sekolah, serta para murid dari berbagai jenjang pendidikan.

Share
OTHER EVENTS
Memperkuat Semangat CINTA INDONESIA Melalui Perayaan HUT ke-75...
PEMENANG KOMPETISI ESAI
WORLD SCHOLAR'S CUP - TOURNAMENT OF CHAMPION